JAM

Tuesday, February 28, 2012

Gema Baiturrahman Online

Gema Baiturrahman Online


Membangun Karakter Ummat Lewat Budaya

Posted: 27 Feb 2012 06:19 PM PST

Dunia pendidikan sekarang dianggap gagal dalam membangun karakter bangsa kita. Lalu bagaimana karakter bisa dibangun melalui seni dan budaya? Teuku Kemal Fasya Dosen Fakultas Ilmu-Ilmu Politik dan Sosial, Universitas Malikussaleh Lhokseumawe (Unimal), berpendapat bahwa tidak ada cara instan membangun karakter, cara yang paling benar membangun karekter adalah tetap dengan pendidikan.

Apa yang dikatakan Kemal mungkin ada benarnya, namun menurutnya dunia pendidikan sekarang, cenderung hanya mengejar pada kecerdasan kognitif, dan terlalu berwawasan global. Sehingga pendidikan moral kepribadian dan lokal terkesampingkan. "Menurut saya, cara mengubah pola pikir dan membangun mental orang yang paling baik adalah dengan pendidikan," ujarnya.

Meski demikian, ia berpandangan bahwa antara pendidikan dan kebudayaan punya korelasi, karena pendidikan adalah salah satu sendi dari kebudayaan. Kalau memakai perspektif Clyde Kluckhon adalah the pool learning, (kolam pelajaran) bagi generasi muda harus mandi di kolam pelajaran, baik di sekolah sebagai pendikan formal, atau pendidikan informal lainnya, tayangan hiburan, termasuk interaksi dengan masyarakat.

Masalahya kita telah kehilangan the pool of learning, dan salah satu yang mengerikan dalam pembangunan karakter sekarang adalah dengan adanya sekolah bertaraf internasional. Anak-anak kita dididik dalam kultur asing, menggunakan bahasa asing, padahal dia saat itu sedang perlu untuk mengekspresikan pikiran dan bahasanya dalam bahasa ibu dan lingkungannya.

Dan yang paling menyedihkan, kata Kemal, guru yang mengajarkan bahasa asing itu adalah orang kita lokal, yang dia belum sampai dalam the sense of language. "Maka, Jadilah anak-anak kita cerdas dalam pikiran, tapi tidak ekspresif dalam tindakan pengetahuan menjadi ter-disorientasi atau kehilangan arah," imbuhnya.

Wajar saja, apa yang telah dihasilkan pendikan kita sekarang adalah seperti telah kehilangan karakter, esensi pendidikan yang seharusnya mengikat sejarah dan aspek kebangsaan tidak dilakukan. Lihat apa yang dilakukan oleh sistem UAN sebenarnya tidak melihat pendidikan sebagai proses menjadi (being process), tapi pendidikan dikatrol untuk menciptakan hasil, yaitu kecerdasan kognitif. Ini sama saja mencontoh apa yang dilakukan oleh Bush di AS, dan di negerinya saja sudah menghadapi kritik yang cukup tajam.

Efekya adalah anak-anak sekarang menjadi kehilangan arah, tak punya pegangan, lembek, dan jika tahapan prestasi tidak didapatkan akan mudah frustasi, kemudian pendidikan menjadi sistem satu dimensi (one dimentional system)

Menurutnya, kolam itu harus disediakan. Bukan hilang, memang tidak ada pemerintah harus menjadikan pendidikan sebagai proses berkebudayaan di samping urusan untuk kecerdasan dan lompatan teknologi, pemerintah harus bertobat dan segera melakukan hal esensial bagi sejarah peradaban, yaitu menyediakan pendidikan yang berkualitas bagi seluruh anak bangsa.

"Jangan kapitalisasi dunia pendidikan, dan jadikan kampus sebagai pendidikan tinggi sebagai proses untuk berpikir krtisis dan politis. Jangan kerangkeng mahasiswa di ruang belajar," tegasnya.

Tetapi, biarkan dia berinteraksi dengan pikiran dan masyarakat Venezuela, Cuba, Brazil sudah melakukan itu, kita sebagai bangsa yang kaya harus bisa juga.

Tidak berbeda dengan Teuku Kemal Fasya, Seniman dan Advokat, Zulfikar Sawang, SH menyebutkan bahwa budaya dan seni punya pengaruh terhadap sikap dan kebudayaan, artinya kesenian itu merupakan bagian dari sebuah kebudayaan. Kebudayaan itu sangat luas, karakter itu sifat-sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang dari yang lain, tabiat dan watak. "Jadi kalau kita bicarakan karakter itu sudah ada nilai, sudah ada prilaku juga," tukasnya.

Menurut Zulfikar, karakter lebih utama dari keterampilan. Contohnya orang sukses dan sangat pintar tetapi budi pekertinya tidak baik, bisa saja semuanya itu tidak ada maknanya. Di dalam karakter itu sudah ada nilai. Jadi bagaimana kita membangun mental dan character building dari masyarakat Aceh itu sendiri.

Bicara kebudayaan Aceh, seni dan karakter menurut dia tidak terpisah dalam Islam. Kesenian Aceh itu tidak bertentangan dengan Islam. Semuanya punya makna. Tapi kita juga punya kelemahan yang tidak mempunyai referensi yang kuat sehingga kita hanya bisa tahu dan mendengar lewat mulut ke mulut. Seudati itu sebenarnya asal katanya syahadatin, bagaimana dulu orang-orang berdakwah untuk mensyahadatkan orang melalui tradisi seni seudati.

"Syair-syairnya membesarkan Allah dan meninggikan Rasul. Tapi hari ini banyak juga yang tidak tahu karena tidak mengkaji secara radikal dan mendalam," tambahnya.

Karakter building masyarakat Aceh jika tidak dipertahankan akan hilang, makanya harus dibangun kembali. Dalam masyarakat yang sehat akan lahir bangsa yang kuat dan bermartabat. Seni dan budaya dalam hal ini sangat berpengaruh.

Yang penting adalah kita tidak perlu menyalahkan pihak tertentu tetapi harus adanya istrospeksi totalitas. Yang sangat penting adalah bagaimana kita melakukan instrospeksi diri, instrospeksi kelompok, instrospeksi masyarakat luas, sehingga kita bisa mempertahankan nilai yang telah ada agar bisa adanya nilai-nilai yang kuat dan bermartabah sehingga kita terus mempertahankan keutuhan bangsa khususnya Aceh kita. Aceh ini tidak punya catatan sejarah yang memadai. Kalau ditelusuri ada berbagai macam kesenian.mus


Mata Air Sastra dari Tanah Gayo

Posted: 27 Feb 2012 06:15 PM PST

L.K. ARA

Puisi yang berjudul 'MENGINGAT ENGKAU' di akhir tulisan merupakan satu diantara ribuan judul puisi karya L.K. Ara, penyair ternama asal Aceh. Ia yang lahir di Takengon, Aceh, 12 November 1937 silam memang sudah renta. Namun usia tidak menjadi 'hijab' baginya untuk terus berkarya.

Apresiasi seorang L.K. Ara terhadap jagad seni, sastra dan budaya bukanlah tanpa bukti. Karyanya terus terbit bagaikan mata air yang tak berhenti memancar. Puisi, cerita anak-anak, cerita rakyat, dan ratusan artikel seni dan sastra karyanya telah dipublikasikan di banyak koran dan majalah dalam dan luar negeri. Puisinya dapat juga ditemukan dalam: Tonggak, (1995), Horison Sastra Indonesia 1 (2002), dan Sajadah Kata (Syaamil, 2003).

Adapun karya L.K. Ara dalam bentuk buku dan telah terbit antara lain: Angin Laut Tawar (Balai Pustaka, 1969); Namaku Bunga (Balai Pustaka, 1980); Kur Lak Lak (Balai Pustaka, 1982); Cerita Rakyat Dari Aceh 1-2 (Grassindo 1995); Seulawah: Antologi Sastra Aceh Sekilas Pintas (ed. YN 1995); Aceh Dalam Puisi (Syaamil Bandung); Belajar Puisi (Syaamil Bandung, 2003); Langit Senja Negeri Timah (YN 2004); Pangkal Pinang Berpantun (ed. DKKP, YN, 2004); Syair Tsunami (Balai Pustaka 2006); Puisi Didong Gayo (Balai Pustaka 2006); Tanoh Gayo Dalam Puisi ( YMA, 2006); Kemilau Bener Meriah (YMA, 2006); Ekspressi Puitis Aceh Menghadapi Musibah (BRR 2006); Sastra Aceh (Pena, 2008); Antologi Syair Gayo (Pena, 2008); Ensiklopedi Aceh I (ed YMAJ, 2008), Malim Dewa dan Cerita Lainnya (ed. YMAJ, 2009); dan Ensiklopedi Aceh II (ed. YMAJ, 2009).

Dari biografinya ditemukan catatan pengalaman kerja dan lawatan budayanya. Ia pernah menjadi redaktur budaya Harian Mimbar Umum (Medan), Pegawai Sekretariat Negara, terakhir bekerja di Balai Pustaka hingga pensiun (1963-1985). Bersama K. Usman, Rusman Setiasumarga dan M. Taslim Ali, mendirikan Teater Balai Pustaka (1967). Memperkenalkan Penyair Tradisional Gayo, To'et mentas di kota-kota Besar di Indonesia.

Ia juga kerap menghadiri sejumlah kongres dan festival seni, sastra dan budaya. Antara lain Kongres Bahasa Melayu Dunia, Kuala Lumpur (1995), Pertemuan Sastrawan Nusantara IX di Kayutanam, Sumatera Barat (1997), Pertemuan Dunia Melayu Dunia Islam, Pangkalpinang, Bangka (2003), Pertemuan Dunia Melayu Islam, Malaka, Malaysia (2004).Mengikuti Festival Kesenian Nasional (Sastra Nusantara) di Mataram NTB (2007), Kongres Bahasa Indonesia di Jakarta (2008), Seminar Perpustakaan di Bandung, 2009. Pada tahun 2009 lalu, L.K. Ara memperoleh Hadiah Seni dari Pemda Aceh.

Kini L.K Ara telah kembali ke Kuta Raja setelah bertahun-tahun hidup dan berkarya di Ibukota Jakarta. Di Komplek Taman Budaya Aceh 'Syech Hamzah Fanshury'disitulah ia kini berlabuh bersama isteri dan anak-anaknya. meflin
ya Allah aku berjalan mengelilingi Ka'bah membawa tubuh luka aku berlari membawa hati yang aib mengelilingi rumah Mu ya Tuhanku aku ingin mendapat ampunan Mu aku ingin mendapat ridha Mu kaki berjalan dituntun ingatan kaki berlari dipecut jiwa yang rindu pada Mu ya Allah beri hamba iman yang teguh hati yang khusuk mengingat Engkau merindukan Engkau Makkah, 26 Mei l993


Bagaimana Cara Gajah Berpikir ?

Posted: 27 Feb 2012 06:06 PM PST

Masyarakat yang melintasi tempat pelatihan gajah di Saree Aceh Besar bisa menyaksikan gajah yang dirantai, diikat dengan tali ke pohon atau tiang. Gajah yang termasuk binatang darat terbesar dan terkuat tidak berdaya diri untuk merdeka apalagi protes kepada pawang. Padahal, jika gajah mau melakukan secara rutin menabrak pohon atau tiang, binatang belalai itu bisa kembali ke habitatnya di hutan Seulawah. Namun hal ini tidak dilakukan. Mengapa?

Pertama, gajah sudah berada di zona nyaman. Makan diantar secara terjadwal oleh pawang. Gajah tidak perlu lagi bersusah payah mencari daun kelapa atau makanan lain yang disukainya. Gajah itu tidak perlu lagi berjuang untuk hidup. Semua fasilitas sudah dijamu. Gajah jadi malas berpikir karena semua fasilitas yang dibutuhkan sudah ada. Dokter hewan pun siaga mengobatinya. Jadi mau apa lagi?

Alasan kedua karena sejak kecil gajah diikat dengan tali untuk menahan dia kabur. Hentakan kaki gajah tidak mampu memutuskan tali, rantai atau merobohkan pohon atau mematahkan tiang.

Pada akhirnya, gajah-gajah percaya bahwa tali yang sejak kecil diikat di kaki depannya hingga dewasa tidak mampu dilumatkan. Padahal ketika gajah masih anak-anak sudah berusaha mendobrak belenggu itu. Apa daya, gajah yang bocah itu gagal memutuskan rantai yang sangat kokoh untuk kemampuan gajah yang masih kecil.

Pikiran gajah yang sejak kecil menyakini gagal memutuskan borgol di kakinya terbawa hingga dewasa. Hasilnya, walaupun badan gajah besar dengan kekuatan yang dahsyat, gajah tetap tidak kabur dari pengawasan pawang.

Gajah tidak bisa kabur dari rantai di kakinya karena gajah percaya tidak bisa. Berpikir tidak bisa. Akhirnya gajah jadi anak manis mengikuti semua perintah pawang. Gajah terjebak pada sifat dogmatis apa yang diyakini selama ini.

Bukan berarti gajah tidak bisa berontak. Di Phuket Thailand, saya mendengar cerita gajah pariwisata dengan operasi kerja di pantai berhasil melepaskan ikatan rantai menjelang tsunami 26 Desember 2004. Allah memberikan kemampuan pada gajah untuk merasakan getaran melalui syaraf-syaraf di ujung kakinya.

Karena kondisinya terancam, gajah berpikir harus menyelamatkan dirinya dengan menghentak kakinya pada rantai. Gajah yang dalam kesulitan mampu menghilangkan pemikiran selama ini bahwa gajah tidak mampu memutuskan tali atau rantai. Di Aceh pun kita dengar warga yang sanggup memanjatkan pohon ketika tsunami. Situasi terpaksa mampu melakukan hal-hal yang tidak bisa dilakukan ketika dalam situasi normal.

Begitu juga manusia yang sudah duluan pasrah dalam mengarungi samudera kehidupan ini. Pemahaman pasrah bisa dipahami jika hamba-Nya sudah berikhtiar. Keyakinan manusia bahwa garis hidupnya sudah berakhir pada halte tertentu berlawanan dengan Islam yang menganjurkan umatnya untuk berpikir positif. Al Quran mengingatkan umat bahwa Aku (Allah) bagaimana prasangka hamba-Ku. Dengan demikian, bila kita berprasangka baik dan berpikir positif terhadap Tuhan, maka tidak diragukan lagi hasilnya juga baik dan positif.

Berpikir bisa dengan semua bantuan Allah mampu mengalahkan pikiran-pikiran negatif. Keyakinan itulah yang menyebabkan pejual gado-gado, pejual mie caluk, nyak-nyak di pasar dan lain-lain bisa berhaji pada usia 50 tahun setelah bertahun-tahun menabung emas. Padahal jika dihitung-hitung, mereka sulit mendapatkan Rp 30 juta untuk ongkos naik haji. Namun kita harus selalu ingat, bahwa Allah tidak pernah tidur menyaksikan umat-Nya yang gigih berjihad, tidak seperti gajah yang tidak pernah berpikir dan mengolah pikirannya menjadi energi positif.Murizal Hamzah


Melahirkan Hafidz Sebanyak-Banyaknya

Posted: 27 Feb 2012 05:49 AM PST

Ustad Sualib Chamsin,
Pimpinan Madrasah Ulumul Quran
(MUQ) Pagar Air, Aceh Besar

Ustadz Sualib Chamsin merupakan hafidz al Quran 30 Juz yang banyak mengabdikan ilmu penghafalannya di Aceh sejak tahun 1991. Ia lahir di Bandung, 15 Januari 1960, telah menikah dengan perempuan Aceh, Syafriah, yang dikaruniai tiga orang anak (Nailul Aulia, Minatul Maula dan Muhammad Sahal). Sampai sekarang ia masih tetap mengajar Al Quran sekaligus sebagai pimpinan pesantren di Madrasah Ulumul Quran, Pagar Air, Aceh Besar.

Dari waktu ke waktu, jumlah santri yang menuntut ilmu di MUQ tersebut semakin ramai. Terutama setelah dibuka sistem pendidikan modern dengan menambahkan sekolah Tsanawiyah dan Aliyah. Kendati begitu, pendidikan menghafal al Quran merupakan skala prioritas pengajaran.

Hingga saat ini, Ustadz Sualib telah berhasil melahirkan lebih dari enampuluh hafizd yang ada di seantero Aceh. Sebagian muridnya sudah menjadi guru hafizd dan imam di masjid-masjid di Aceh dan provinsi lain di Indonesia. "Selain sudah tersebar di Aceh dan luar Aceh, bahkan dari Malaysia juga datang kemari mencari hafizd untuk dibawa kesana," tutur Ustadz Sualib.

Menurut dia, Aceh merupakan daerah sangat potensial untuk melahirkan kader-kader penghafal al Quran. Hal itu dikarenakan sejarah Aceh dan penduduknya yang sangat kental dengan Islam. Selain itu, dengan menghafal al Quran, maka Allah akan memberikan kedamaian pada diri penghafalnya, serta lingkungannya. "Saya bercita-cita untuk melahirkan penghafal Al Quran sebanyak-banyaknya di Aceh," tambahnya.

Saat semua muridnya belum tersebar ke berbagai daerah, ia pernah membuat program menamatkan al Quran dalam satu hari. Caranya dengan menugaskan tiga puluh muridnya untuk menghafalkan masing-masing satu juz dalam satu hari. "Program mulia itu pernah berjalan, tapi berhenti karena semua murid sudah meyebar," kata salah satu muridnya, Zamhuri Ramli, yang sekarang menjadi Imam Masjid Raya Baiturrahman.

"Ustadz Sualib adalah guru saya, ia termasuk guru yang disiplin dan sukses mendidik murid-muridnya, serta sangat lancar penghafalannya. Yang sangat saya ingat, ketika ia menyuruh sesuatu kepada muridnya, dia juga mengerjakannya," tambah Zamhuri yang pernah nyantri enam tahun di madrasah tersebut, kemudian melanjutkan ke PTIQ, Jakarta.

Kepada pemerintah, pimpinan MUQ itu meminta agar mensosialisasikan keberadaan para hafidz sehingga para hafidz merasa dibutuhkan dalam masyarakat. Misalnya dalam bulan Ramadhan, para hafidz bisa diundang ke masjid-masjid untuk menjadi imam shalat taraweh dan sebagainya.
Sejarah adanya Madrasah Ulumul Quran (MUQ) tersebut berawal dari keinginan mantan Gubernur Aceh, Ibrahim Hasan untuk mendirikan lembaga pendidikan hafal Quran khusus di Aceh. Saat itu Ibrahim Hasan meminta kepada Perguruan Tinggi Ilmu al Quran (PTIQ) Jakarta, agar mengirimkan guru penghafal Quran ke Aceh. Dari itulah awal kedatangan Ustadz Sualib ke Aceh yang sebelumnya juga pernah mengajar di MUQ Langsa, Aceh Timur (sekarang kota Langsa).

Ketika wartawan Gema menanyakan motto hidupnya yang barangkali bisa menjadi inspirasi bagi masyarakat, ia hanya mengatakan, "Jalani apa adanya,". Wallahu A'lam. m. syukur hasbi


Bicara Syariah Islam Harus Totalitas

Posted: 27 Feb 2012 05:46 AM PST

Prof. Dr. Syahrizal Abbas,
Dosen IAIN Ar-Raniry

Syariat islam di Aceh sudah berjalan satu dekade, bagaimana Anda melihat perkembangan yang terjadi?
Memang secara formal sudah satu dekade sejak dari 1 muharam 1423 H sampai hari ini. Sebetulnya momentum apa yang sudah kita deklarasikan itu, patut juga kita ingat kembali dalam setiap saat. Karena Itu merupakan satu itikad baik kita ingin melaksanakan Syariat Islam di Aceh secara menyeluruh dalam seluruh aspek kehidupan kita. Ke depan ini saya pikir, banyak yang sudah dicapai. Baik dalam konteks penyusunan perundang-undangan yang berbasis syariah mauapun dalam upaya penegaan hukum syariah itu sendiri. Walaupun harus diakui juga bahwa apa yang dilakukan itu pun masih belum maksimal, belum memiliki banyak arti, dibandingkan dengan kontek Syariat Islam yang sangat luas. Jadi kita belum apa-apanya kita laukan. Masih banyak hal lain yang harus kita lakukan terutama dalam kontek pendidikan pemahaman masyarakat.

Artinya, anda melihat ada kemajuan?
Ya, paling tidak ada beberapa catatan. Seperti adanya prodak perudangan, adanya qanun-qanun yang sudah berjalan. Ini artinya adanya 'itikad baik pemerintah, keseriusan penegak hukum. Terlepas adanya pro dan kontra. Dan itu sangat wajar. Tapi yang penting kita catat bahwa ada gerak upaya untuk itu. Walaupun harus diakui kelemahan itu sangat banyak.

Kalau dari segi pemahaman masyarakat akan syariat Islam itu sendiri sejauh ini, anda melihat sudah sejauh mana?
Kita belum bisa mengatakan masyarakat kita itu sudah paham, atau belum. Karena kita belum bisa menyusun indicator pemahaman syariah seperti apa yang kita pakai untuk mengukur pemahaman masyarakat terhadap syariah. Tapi paling tidak, saya memiliki informasi, pemahaman masyarakat akan syariah sudah mulai bergerak. Dan ini bisa juga dilihat dari beberapa pertemuan, diskusi, seminar, lokakarya dan musyawarah. Jadi sudah mulai ada gerakan untuk pemahaman dan pendalaman. Jadi mulai terasa, walaupun geraknya itu sudah sangat lamban.

Ada kesan di masyarakat bahwa begitu sulit syariat Islam di Aceh, menurut Anda?
Salah satu faktornya adalah pada kemampua mendalami dan integral terhadap syariah. Jadi pemahaman kita terhadap syariah itu masih parsial. Orang memahami syriah dalam dimensi pidana saja. Kalau belum dicambuk belum syariah. Yang terbayang sama dia syariah itu hanya pidana Islam. Ada juga yang memahami syariah itu hanya pada praktek ritual saja, shalat, zakat, puasa saja.

Yang namanya syariah adalah totalitas seluruh ajaran agama yang bersumber dari alquran dan hadis, maka itu dikatakan syariah. Bisa dikatakan dalam arti ibadah mardah: shalat, puasa, zakat, haji dan sebagainya, maupun ibadah sosial lainnya. Bisa dalam kontek hukum pidana maupun dalam kontek hukum privat. Jadi bicara syariah, bukan hanya bicara potong tangan, bicara cambuk, bukan itu. Itu hanya bagian kecil. Misalnya melakukan transaksi pada Bank.
Kita melakukan jual beli, sewa menyewa, mengunakan sarana transportasi berjalan ditempat umum, mengunakan kendaraan. Itu apa yang kita pakai? Ini penting untuk pemahaman. Katakanlah dalam konteks lalu lintas jalan, orang yang memahami syariah, dia meyaikini aturan yang dibuat, ada lampu merah dan rambu-rambu lalu lintas, itu semua panduan syariah. Kalau dia ikuti rambu-rambu itu, maka akan selamat jiwanya, akan terlindungi dan terpelihara jiwanya. Nah kalau melindungi dan memlihara jiwa, itukan hakikat hukum, hakikat syariah. Jadi memelihara jiwa merupakan salah satu indikasi syariah.

Jadi kalau ada orang tertabrak karena melanggar lampu merah. Maka dia melangar syariah, artinya dia tidak melindungi dirinya. Hal semacam ini sering tidak kita bicarakan dalam syariah. Wah, itukan urusan undang-undang nasioal. Jadi jangan berpkir syariah itu hanya ancaman pidana. Kewajiban memberi ilmu itu syariah. Jadi kalau kita bicara bagaimana membangun pendidikan, bagimana mendesain kurikulum, bagaimana mendesain sarana prasaana pedidikan, seolah-olah itu diluar syariah. Padahal itu syariah.

Jadi bicara syariah harus totalita.Semua aspek, baik aspek ibadah, muammalah, munakahat, jinayah, pengadilan, ekonomi dan pendidikan. Semuanya. Jadi kalau mengukur keberhasilan syariat islam pada dimensi jinayah saja itu logianya belum benar, belum tepat. Jadi dilihat secara keseluruhan memang masih sangat minim atau hamper sedikit sekali.

Kalau begitu dengan kodisi masyarakat Aceh sekarang ini, kira-kira perlu berapa tahun agar syariat islam bisa berjalan secara baik?
Saya tidak bisa memberikan perdiksi seperti itu, karena memang kalau kita tidak meyiapkan desain yang besar untuk peningkatan yang baik pada masyarakat, sepuluh dua puluh, bahkan seratus tahun belum bisa dipastikan akan mampu membuka wawasan pengetahuan masyarakat terhdap syariat Islam lebih baik. Tapi kalau sudah dilakukan sedikit demi sedikit mungkin dalam waktu dekat, tidak bisa dipastikan. karena ini berkaitan dengan kemampuan dan keseriusan, itikad baik dari semua pihak. Bukan hanya pemerintah, setiap individu punya kewajiban.(Gbo)


READ MORE - Gema Baiturrahman Online

MYBLOGLOG

Labels

Aceh (20) BERITA (16) download (3) free (5) HISTORY (8) indonesia (11) info (14) jakarta post (3) lhoknga (15) Masakan (3) metro (1) metro news (2) muse (3) News (16) Renungan (4) senjata (1) SERAMBI INDONESIA (11) tradisional (3) udin (3)

ADD ME

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

AD 1

YOUR MAP